Thursday, 10 August 2017

Sabda Netijen

Rusuh dan huru hara yang diakibatkan tingkah polah netijen di dunia maya memang nggak ada habisnya. Kadang ada yang penuh faedah dan nasihat, ada yang nggak jelas *mungkin ini gw*, ada yang ngomel melulu *mungkin juga ini gw*, ada yang pure lucu, ada yang lucu-tapi-gemblung, ada yang guoblok-luar-biasa-sampai-speechless-akhirnya-ketawa-aja, ada juga yang hobi menebar benih twitwor, ada yang hobi pake followers power buat nyerang orang yang (dianggap) salah atau nggak setuju dengan dia, dan masih banyak lainnya.

Kali ini  sabda netijen berbunyi...


Dengan salah satu balasan ter epic...



Sebagai seorang yang mengaku muslimah soleha, sudah barang tentu gw tumbuh dengan ajaran semua atas izin Allah, tapi ya manusianya usaha bukan cuma ujug-ujug. Di lubuk hati terdalam, gw merasa bahwa beliaunya ini mungkin bermaksud mengatakan bahwa pesawat terbang atas izin Allah (via usaha pilot). Masalahnya, redaksi dari sabda netijen di atas mengindikasikan kalau ga ada peran manusia buat nerbangin pesawat tersebut, ya ujug-ujug lah terbang, wajar kalau kemudian dunia maya menjadi rusuh. Antara pengen ketawa tapi pengen juga bilang, 'Woi, cobain lo naik pesawat yang nggak ada pilotnya, kokpit kosong kayak masjid kalau bukan bulan puasa. Sampe ke tujuan apa nggak? Hah?! Hah?! Hah?!' Ya masa iya pesawatnya bakal pindah sendiri ke tempat lain, emangnya orang yang nginep di masjid, tidurnya di karpet bangun-bangun udah ada di dalam bedug karena katanya dipindahin sama jin, hih!!

Selain soal pilot, sabda beliaunya memang bikin rusuh. mulai dari anti vaksin (no surprise) sampai bilang kalau konsultansi dengan dokter soal vaksin tak ubahnya konsultasi miras dengan pemabuk. Gw juga nggak tahu, siapa yang tersinggung dengan analogi itu, dokter atau pemabuk...bhihihihihik.

Anyway, ngomongin soal pesawat, gw jadi inget bitnya Louis C.K. yang ini, tentang betapa nyebelinnya orang Amerika ketika komplen dan ujung-ujungnya ngomongin nyebelinnya orang Amerika berkenaan dengan pesawat. Kalau pemirsa merasa memiliki hati seputih salju dan selembut kapas, ga usah ditonton, terutama bagian akhir ketika nyerempet-nyerempet dengan Tuhan. 


'God threw the birds in the engine, I am sorry but that's what God did.'

Sekian sabda netijen kali ini.
Read More »

Wednesday, 9 August 2017

Tentang (Tambah) Tua

Bukan, bukan dalam rangka gw habis ulang tahun, cuma kok kayaknya penuaan ini semakin terasa ya *pasang koyok cabe sebadan-badan*. Bukan cuma masalah metabolisme menurun, cepet masuk angin, dan stamina masa muda yang menguap *dulu semangat ngantri konser, sekarang mentok di level Netflix and chill, tsaaahhhh*. Selain penurunan fisik, yang bikin gw sekarang paham kenapa nggak ada atlet yang pensiun pas udah tua, ada hal lain yang juga gw rasain, kayaknya gw menjadi (lebih) rasional. Ciehhhh, masa sih? *padahal mah tetep halu on day to day basis*  

Gw juga ga paham sih, entah gw menjadi rasional atau justru menjadi sinis dan nyebelin, tapi emang terjadi pergeseran cara pandang tentang banyak hal sih.  Gw pernah liat ada yang ngetwit, pas masih muda Spongebob, pas udah dewasa Squidward. Ih, bener banget tuh!! Gw juga nggak tahu gimana menjelaskan hal ini, tapi kayaknya bisa pake contoh. 

Waktu masih mudaan, mata gw berbinar dan gw mengangguk-angguk ketika ketemu quote:

pic from here
Sekarang....


YAELAH MZ, MB, QYTA SOBAT KIZMIN MAU TRAVELING PAKE APA?! Apa harus ke Dimas Kanjeng dulu? Ngepet? Piara tuyul? Jadi simpenan pejabat yang korupsi? Ya yang bener aja, kalau kebetulan emang tajir melintir dan tanpa kerja kehidupan tujuh turunan tetep terjamin, ya silakan, tapi ya nggak semua orang bisa begitu. Apalagi kalau kita mau adaptasi langsung ide yang, misalnya, dicetuskan orang dari negara maju yang mau traveling ke negara dunia ketiga pake mata uang dia yang nilainya jauh lebih tinggi dan kesaktian warga negaranya yang bikin dia nggak perlu bikin visa, lha kita? Meh. Ya kalau mau, kerja yang bener, lalu nabung dan jalan-jalan, ya sekali-kali kan perlu senang-senang dan nikmatin kerja keras. Tapi kalau hal tersebut tetap nggak memungkinkan, ya udahlahya, don't listen to your friends who happen to be a trash-traveling-snob. 'Ya kan, gw mau resign, pake semua tabungan, traveling, terus habis itu jadi travel blogger dan nulis buku.' Ya silakan, no one stops you, just check first about the odd of being success of doing it.

Hal lain adalah tentang kecantikan fisik, everyone is beautiful. No, it's not, it is just not, accept it :))). Dulu jaman masih muda, gw mikir, 'Iya kok semua orang cantik, cuma beda-beda aja cantiknya.' Beda cantiknya hahahahaha, menghibur diri karena menghadapi kenyataan pahit bahwa gw ga cakep :))). Sekarang? Lho, emang ga semua orang cantik. Liat dong gw, pake standar kecantikan manapun, pake biological metric mana pun gw ga cantik, terus gimana? Ya udah nggak gimana-gimana, emang kenyataannya gitu, mau oplas? sedot lemak? pasang susuk? Ga ah, sayang duite, lagian gw nggak (atau belum) berakir di dunia Hollywood *pret*. Buat gw secara pribadi, feel good about myself is more important than feel beautiful.

Juga tentang passion yang dulu pada masanya pernah gw tulis di sini. Makanya gw sempet gemes pas baca tulisan Angela Duckworth di bukunya Grit. Seolah-olah kesuksesan bisa diraih jika dan hanya jika dua variabel -passion dan perseverance- terpenuhi, dan harus dua-duanya. Gw ga peduli meski dia ahli di bidangnya, tapi dari tujuh triliun mahluk di bumi ini, berapa sih yang akhirnya bisa nemu passionnya? Dan gw yakin, orang-orang yang suskes, banyak sebagian dari mereka yang, 'Awalnya gw ngelakuin ini karena ga tau mau ngapain/karena nggak ada pilihan. Terus lama-lama dijalani, oke juga, gw jadi lebih jago dan gw ngelakuin hal itu secara konsisten sampai sekarang.' 
Sedangkan jaman dulu kalau denger tentang passion, tangan gw mengepal di udara sambil berlinang air mata lalu teriak, 'Akan Aku temukan passionku!!!!' NGOK. 
Tapi pasti ada juga orang-orang yang beruntung nemu passionnya lalu kerja keras dan berhasil. Well done. 

Kurang lebih begitu, mungkin jatuhnya lebih ke sinis dan nyebelin ya? Ya gimana dong. Jaman mudaan, apalagi jaman kuliah, hidup kan enteng aja, nggak ada tanggung jawab apa-apa, ibarat kata, what can go wrong? Ya banyak sih yang can go wrong, misal ngehamilin anak orang, tapi tahu kan ya maksud gw *?!*  Banyakan halunya, bikin list panjang ini dan itu, lingkungan di situ-situ aja, kuliah di kampus yang pas hari pertama masuk disambut pake spanduk ,'Selamat datang putra-putri terbaik bangsa.' Begitu tambah tua dan liat keluar, baru deh sadar.

Begitulah tulisan dari orang yang ngakunya menjadi rasional padahal ujung-ujungnya cuma jadi sinis dan nyebelin bak Squidward, lyfe.
Read More »

Tuesday, 25 July 2017

[Buku]: Born A Crime - Trevor Noah

Di buku ini Noah menceritakan bagaimana dia sempat mengalami tumbuh di lingkungan apartheid (gila ya? Gw ngebayanginnya aja begidik). Dalam lingkungan apartheid, semua batasannya jelas antara orang kulit hitam dan putih, yang repot justru orang campuran seperti Noah. Lo nggak akan kena masalah kalau lo lahir sebagai anak campuran karena bapak lo campuran dan ibu lo campuran, tapi lo akan kena masalah, bahkan hal ini dikategorikan sebagai tindak kriminal, kalo lahir sebagai anak campuran dari satu orang tua hitam dan putih, dan itu dia Trevor Noah, makanya dia bilang kalau dia itu Born a Crime. Saat dia kecil, dia bahkan nggak bisa dengan bebas jalan bareng ibunya karena kalau pihak autoriti melihat, Noah akan langsung digeret masuk panti asuhan. 

Milih buku (berbentuknya esai atau memoir) yang ditulis oleh (stand-up) comedian itu tricky, apalagi kalau kita secara personal suka dengan comedian tersebut. Ekspektasi biasanya udah tinggi karena kita bikin penilaian berdasrkan karya lainnya yang udah pernah dia bikin (stand-up performance-nya lah, sitkom lah, hosting, podcast, dll.), tapi giliran nulis buku kok meh, kan kecewa.

Hero dari buku ini sendiri kalau menurt gw adalah emaknya Trevor Noah, Patricia Noah. Kalau menurut gw sih , dia orang gila keras kepala. Mulai dari dia kekeh pengen punya anak dari seoarang kulit putih Swiss-German (dan lahirlah Trevor Noah) sampai dia ditembak oleh mantan suaminya sendiri. Tapi gw bilang, karena kegilaan dia juga Trevor Noah bisa jadi seperti ini.

Menurut gw, Trevor Noah ini bisa cerita lewat tulisan. Kerjaan dia kan sebagai host atau komedian, selama ini di biasa nyampein sesuatu lewat performance yang terlihat secara visual, pasti beda ya kalau ingin menyampaikan sesuatu lewat tulisan, tapi dia sukses melakukan ini. Mungkin bukan cuma  dari cara dia nulis, tapi juga pengalaman yang dia tuliskan. Baca Born a Crime itu rasanya kayak nonton Homecoming King-nya Hasan Minhaj, beautifully told and personal. It touches people (or at least me) at so many levels, since those are their personal stories growing up as kid. As I read that book, I experienced many different emotions; sad, happy, anger, joy, disgust, mistrust, etc. Jokes yang dia angkat pun cukup universal dan pembaca mana pun bisa ngeh sama jokes tersebut tanpa perlu referensi tertentu.

Kesimpulannya, gw suka banget buku ini!!! Rekomendasi banget deh buat dibaca, bacaan ringan tapi masih ada isinya.

Dan tentu saja, tidak lengkap rasanya kalau belum ngutip bagian favorit dari buku, ini kuitipan dari bukunya sebagai ucapan emaknya.
“I know you see me as some crazy old bitch nagging at you,” she said, “but you forget the reason I ride you so hard and give you so much shit is because I love you. Everything I have ever done I’ve done from a place of love. If I don’t punish you, the world will punish you even worse. The world doesn’t love you. If the police get you, the police don’t love you. When I beat you, I’m trying to save you. When they beat you, they’re trying to kill you.”
Bagian lainnya.
“We’ve caught your son shoplifting batteries,” he said. “You need to come and fetch him.”
“No,” she said. “Take him to jail. If he’s going to disobey he needs to learn the consequences.”
Then she hung up. The guard looked at me, confused. Eventually he let me go on the assumption that I was some wayward orphan, because what mother would send her ten-year-old child to jail?

Dear Patricia Noah,



Read More »